Dalam buku nashoihul ibad/world inhabitant
advice penjelasan karya imam ibnu hajar al asqalainy oleh imam nawawi al
banteniy pada bagian pertama, dipaparkan nabi muhammad SAW bersabda “dua hal
yang tiada satupun melebihi keunggulan, yaitu iman kepada tuhan dan
kebermanfaatan bagi kaum muslim”
Terdapat dua poin pada riwayat tersebut, yang
pertama adalah keimanan kepada tuhan dan yang kedua adalah bermanfaat bagi
orang lain. Tuhan memberikan perintah kepada manusia, yang pada dasarnya
perintah tersebut menunjukan kepada kepada keagungan tuhan dan belaskasih
kepada manusia. Atau dapat saya simpulkan bahwa di dunia kita mempunyai dua
kewajiban, yaitu kewajiban kepada tuhan dan kewajiban kepada manusia.
Sempat berpikir untuk
apa kita diciptakan di bumi? Tidak mungkin tuhan menciptakan kita tanpa tujuan.
Pastinya terdapat hal yang harus kita lakukan yang menjadikan kita harus
diciptakan. Sehingga untuk menjawab permasalahan masa kini, khususnya masa-masa
kritis, usia 20 – 40an yang sebagian orang selalu membandingakan diri dengan
orang lain melalui berbagai macam pertanyaan. Seperti,
Apakah kita sudah
sukses?
Teman-teman yang lain
sudah memiliki usaha yang sukses, Saya?
Teman-teman sudah
menikah, Saya?
Teman-teman sudah
memiliki anak, Saya?
Teman-teman sudah
menjadi bos, Saya?
Teman-teman sudah
menjadi manager, Saya?
Dan
pertanyaan-petanyaan lainnya yang pastinya tidak semua membuat kita terpacu,
namun menjadikan orang lain sebagai standar kita. Ada bebrapa orang yang
menjadikan hal tersebut sebagai acuan supaya meningkatkan kinerja, namun sebagian
membuat sebaliknya dan menjadikan diri menjadi rendah. Sehingga perlu dari kita
kembali ke hakikat kita ada atau hidup. Tuhan pasti punya rencana. Kita harus
fokus terhadap hakekat kita dan tujuan hidup kita. Tidak perlu untuk
membandingkan diri kita dengan orang lain. Nikmati setiap waktu yang diberikan
oleh tuhan kepada kita dengan dua poin tadi. Hubungan kita dengan tuhan
misalnya. Mungkin kita sudah kurang dekat dengan tuhan, atau perlu semakin
dekat. Banyak hal yang perlu kita pelajari. Mungkin pengetahuan kita terhadap
tuhan masih kurang, atau cara ibadah kita belum benar. Selanjutnya terhadap
hubungan kita dengan manusia yang mana pada hadits di atas lebih ditekankan
kepada kebermanfaatan terhadap manusia. Mungkin kita lebih bermanfaat diposisi
kita saat ini dibandingkan dengan apabila tidak diposisi tersebut. Tebarkanlah
banyak manfaat selama kita bisa bermanfaat dengan hal sekecil apapun. Kita
harus mulai dari sekarang. Namun apabila dari dua hal tersebut kita sudah PD
dan yakin semua sudah dilakukan. Kita sudah sangat dekat dengan tuhan dan kita
sudah sangat bermanfaat dengan orang lain, lalu? Perbaiki diri kita kalau kita
sudah berkata demikian. Artinya ada yang salah, karena masalah orang bodoh
adalah malas, sedangkan masalah orang pintar adalah sombong. Jadi bagaimana
kita? Semoga kita bebas dari masalah kebodohan dan kesombongan.
Komentar
Posting Komentar