Bersyukur

Saya lupa waktu itu semester berapa, tapi yang jelas saya masih kuliah. Hari jumat kayaknya, karena waktu itu ssaya jaga sekretariat di pondok (jadwal saya jumat  jam 08.00 – 12.00). Siang itu datang seorang bapak usia 40-50 sepertinya. Saya menerimanya dan beliau menceritakan tentang pondok yang saya tempati. Ternyata anaknya putra (soalnya bapaknya sendirian waktu itu). Saya langsung meyerahkan ke santri putra supaya melihat-lihat pondok. Kareja saya ada jadwal kuliah jam 13.00 saya sekalian siap-siap dan menunggu teman shift setelah saya. Jam 12.30 saya sudah siap ternyata bapaknya juga sudah selesai dari bertemu pengurus dan lihat-lihat. Kemudian bapaknya menanyakan selain pondok ini ada lagi kah pondok yang lain. Saya langsung menjawab, “ada beberapa, Pondok B, C, dan D, tapi yang lumayan dekat dari pondok ini di Ponsok B pak”.
“ itu tempatnya dimana ya mb?”
“sekitas 2 – 3 km pak, cukup dekat darisini. Biasanya kalau mau kesana bisa naik bus warna kuning di perempatan depan atau naik taksi pak” *karena waktu itu tahun 2012 – 2013an. Samrtphone sudah mulai ada tapi belum ada gojeck atau grab. Yang ada becak sm tukang ojek pengkolan depan ya.
“ow begitu mb, berarti saya ke perempatan saja sekalian” bapaknya menjawab
Kebetulan saya mau ke kampus dan sedikit satu arah dengan pondok B, jadi saya tawarkan saya gonceng naik motor saya dan bapaknya mau saya antarkan. Akhirnya saya mengantarkan beliau. Awalnya memang saya mau mengantarkand di dekat jalan besar (jalan am sangaji) supaya gampang nyari taksi atau bus karena kalau nunggu di depan pondok gak mungkin ada yang lewat. Tapi karena sekalian searah saya langsungin ke ponsoknya karena menurut saya dekat jadi tanggung kalau gak ditempatnya, selain itu juga sulit menjelaskan Ponsok B karena gak dipinggir jalan tempatnya dan gang nya tidak begitu terlihat dari jalan monjali. Dijalan bapaknya bercerita memang ingin mealakukan survey untuk anaknya yang mau sekolah SMA. Bapaknya ternyata dari Kalimantan/sulawesi gitu. Kebetulan sepertinya ada acara kantor jadi sekalian survey. Bapaknya pejabat disana lupa di bagian apa (seingats saya pejabat di struktur pemerintahan). Cuma memang bawaanya bakanya santai banget. Kalau dari pakaiannya tampak kalau bapak-bapak sibuk dan bawa satu ransel waktu itu. Dan akhirnya sampailah saya di Pondok B dan saya langsung mencarikan pengurus pondoknya untuk memenerima bapaknya. Karena sudah mepet saya langsung pamit untuk kuliah sebenarnya pingin nemani sampe selesai tapi apalah daya. Saya langsung bersalaman dan pergi, tapi pas di mau pergi bapaknya memberikan uang ke saya. Otomatis saya menolaknya karena saya hanya mengantarkan saja. Saya langsung pamit dan tetap dikerjar dan diminta untuk menerima uangnya. Aseli. Saya rada kikuk kalau masalah seperti ini. Soalnya udah nolak tapi tetep dipaksain. Saya juga gak enakan. Sampai akhirnya ya sudahlah gimana lagi saya terima.

Apa yang saya dapat?
Setelah itu dijalan saya berpikir. Ya allah saya itu tadi niatnya Cuma ngaterin bentar. Dan itukan Cuma deket. Tapi tiba-tiba dikasih uang. Memang tuhan itu kalau ngarih rezeki tidak bisa kita pake peritungan. Tidak bisa diprediksi. Dan kalau sudah berkehendak cara apapun itu bisa terjadi. Bahkan yang gak masuk akal pun tetep bisa. Dan besok kalau saya dibantu orang juga minimal harus kayak gini. Itu mungkin bentuk ucapan terima kasih. 

Komentar